RADARCIAMIS.COM— Pelatihan UPI Tasikmalaya perkuat kompetensi guru dalam mengintegrasikan kearifan lokal untuk pembelajaran matematika yang kontekstual dan menyenangkan.
Upaya menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan metode belajar yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.
Salah satu inovasi tersebut hadir melalui pemanfaatan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya memperkuat pemahaman konsep akademik, tetapi juga berperan dalam pelestarian budaya lokal.
Gagasan tersebut diwujudkan dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar melalui Pemanfaatan Permainan Tradisional Simar yang digelar pada 8 Mei 2026 di Kompleks SDN Gunungpereng, Kota Tasikmalaya.
BACA JUGA: Kiper Masa Depan Persija Hafizh Rizkianur Sukses Debut, Minta Dukungan Terus Jakmania
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, guru, dan mahasiswa dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.
Sebanyak 30 guru dari SDN 1 Gunungpereng, SDN 2 Gunungpereng, dan SDN 5 Gunungpereng mengikuti pelatihan tersebut.
Kegiatan ini juga melibatkan 12 mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI Kampus Tasikmalaya yang turut berpartisipasi dalam proses pendampingan dan diseminasi hasil penelitian.
Pelatihan menghadirkan Prof. Dr. Karlimah, M.Pd. sebagai narasumber utama dengan didampingi tim akademisi yang terdiri atas Dr. Ika Fitri Apriani, M.Pd., Dindin Abdul Muiz Lidinillah, S.Si., S.E., M.Pd., serta Muhammad Rijal Wahid Muharram, M.Pd. Kegiatan tersebut terlaksana melalui dukungan Hibah UPI Batch 2 Skema Pengabdian kepada Masyarakat Bidang Ilmu Tahun 2026.
Kepala SDN 1 Gunungpereng Kota Tasikmalaya Dr. Irvan Kristian, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menilai pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi para guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih inovatif dan dekat dengan pengalaman sehari-hari peserta didik.
Menurutnya, pemanfaatan permainan tradisional Simar tidak hanya membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih konkret, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kembali warisan budaya lokal kepada generasi muda yang saat ini semakin akrab dengan teknologi digital.
Dalam pemaparannya, Prof. Karlimah menjelaskan bahwa pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar akan lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan siswa.
Ia menilai konsep-konsep operasi hitung akan lebih bermakna apabila peserta didik terlibat langsung dalam pengalaman belajar yang interaktif dibandingkan hanya menerima penjelasan abstrak di dalam kelas.
Melalui permainan Simar, siswa diajak belajar sambil bermain sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih aktif, menyenangkan, dan tetap memiliki akar kuat pada budaya lokal.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus membantu mereka memahami konsep matematika secara lebih alami.
Simar sendiri merupakan permainan tradisional masyarakat Sunda yang memanfaatkan berbagai jenis biji-bijian sebagai media utama permainan.
Dalam penerapannya sebagai alat pembelajaran, setiap jenis biji diberikan nilai tertentu yang dapat digunakan untuk aktivitas berhitung.
Biji sirsak bernilai satu poin, biji asam lima poin, biji sawo sepuluh poin, biji peundeuy lima puluh poin, dan biji tanjung seratus poin.
Permainan dilakukan dengan cara menjentikkan biji ke arah lubang target. Biji yang berhasil masuk kemudian dihitung sebagai perolehan skor.
Dari mekanisme sederhana tersebut, guru dapat mengembangkan berbagai materi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian.
Proses belajar menjadi lebih konkret karena siswa dapat melihat dan mempraktikkan langsung konsep-konsep yang sedang dipelajari.
Potensi Simar tidak berhenti pada pembelajaran matematika. Permainan ini juga dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Melalui berbagai jenis biji yang digunakan, siswa dapat mengenal beragam tanaman, memahami asal-usulnya, serta mempelajari lingkungan tempat tumbuhnya.
Pendekatan lintas disiplin tersebut memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih utuh.
Selain meningkatkan kemampuan numerasi, siswa juga dapat memperluas wawasan mengenai keanekaragaman hayati dan lingkungan sekitar.
Lebih jauh, permainan tradisional Simar dinilai memiliki nilai edukatif yang kuat dalam pembentukan karakter.
Aturan permainan yang mengedepankan interaksi antarpemain menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, sportivitas, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai.
Selain sesi pelatihan, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan diseminasi hasil penelitian mahasiswa S2 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya.
Forum tersebut menjadi wadah berbagi gagasan dan pengalaman antara akademisi, mahasiswa, serta praktisi pendidikan terkait pengembangan media pembelajaran, strategi pengajaran inovatif, dan pemanfaatan kearifan lokal dalam dunia pendidikan.
Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan semakin mampu merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pemanfaatan permainan tradisional Simar menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat diadaptasi menjadi sumber belajar yang efektif dan bermakna.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian budaya melalui dunia pendidikan menjadi langkah strategis yang memberikan manfaat ganda.
Tidak hanya menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah, tetapi juga memperkaya metode pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Pelatihan ini sekaligus menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar bagian dari masa lalu.
Dengan sentuhan inovasi dan pendekatan pedagogis yang tepat, permainan tradisional dapat bertransformasi menjadi media pembelajaran modern yang mendukung peningkatan kompetensi akademik sekaligus pembentukan karakter siswa, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. (rls)



