RADARCIAMIS.COM – Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mukti Mandiri Bersama Sukamukti Sri Nurhayati tidak masuk kantor sejak beberapa hari terakhir.
Informasi tersebut mulai diketahui pemerintah desa setelah pihak keluarga mendatangi kantor Desa Sukamukti.
Dilansir Radartasik.id, Kepala Desa Sukamukti Budi Haryono melalui Sekretaris Desa Nana Juhana menjelaskan orang tua Sri Nurhayati datang ke kantor desa pada Selasa 5 Mei 2026 untuk melaporkan keberadaan anaknya yang tidak diketahui.
Setelah menerima laporan tersebut, pemerintah desa langsung berkoordinasi dengan camat dan instansi terkait pada hari berikutnya.
Menurut Nana, kabar hilangnya Sri sempat membuat situasi ramai karena yang bersangkutan tidak masuk kantor dan nomor teleponnya tidak dapat dihubungi.
Kondisi semakin memicu perhatian setelah sejumlah pemasok buah mendatangi kantor desa untuk menagih piutang dengan nominal cukup besar.
Pemerintah desa kemudian mencoba mencari informasi kepada pihak keluarga.
Berdasarkan keterangan suami Sri, yang bersangkutan disebut sedang berada di luar daerah.
Meski demikian, pemerintah desa mengaku belum memperoleh kepastian terkait keberadaan direktur BUMDes tersebut.
Nana menuturkan selama ini BUMDes Mukti Mandiri Bersama dinilai berjalan baik dan bahkan sempat menjadi contoh bagi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
Peluang kerja sama dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu potensi usaha yang dimanfaatkan pengelola BUMDes.
Dia juga menegaskan tidak ada tanda-tanda persoalan dalam pengelolaan BUMDes sebelumnya. Aktivitas kerja dan administrasi disebut berjalan normal tanpa adanya keluhan berarti.
Namun persoalan mulai mencuat pada Senin 4 Mei 2026 ketika Sri tidak hadir di kantor.
Setelah itu, sejumlah pihak datang dan mengaku memiliki kerja sama pribadi dengan Sri terkait pembayaran barang yang telah dikirim.
Dari situ, pemerintah desa mulai mempertanyakan kemungkinan adanya persoalan yang belum diketahui.
Aparat desa kemudian bergerak cepat dengan mengumpulkan perangkat desa untuk mencari keberadaan Sri karena semakin banyak pihak datang menagih ke kantor desa.
Nana menjelaskan desa merasa perlu bersikap responsif karena Sri membawa nama BUMDes dalam aktivitasnya sehingga persoalan tersebut harus ditangani secara jelas.
Setelah memeriksa dokumen yang dibawa pihak ketiga, pemerintah desa mengaku terkejut karena kerja sama tersebut ternyata dilakukan secara pribadi dan bukan atas nama resmi BUMDes.
Padahal, setiap kerja sama BUMDes seharusnya dibahas melalui musyawarah desa terlebih dahulu.
Pemerintah desa pun menilai persoalan tersebut lebih mengarah pada urusan pribadi setelah mempelajari isi dokumen kerja sama yang ada.
Meski begitu, hasil analisis bagian keuangan desa bahwa terdapat penyertaan modal untuk BUMDes sekitar Rp 140 juta.
Hingga kini pihak desa masih menunggu keterangan langsung dari Sri Nurhayati agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara terbuka dan transparan.



