RADARCIAMIS.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran di sektor ritel.
Sejumlah pelaku usaha memberi sinyal adanya potensi kenaikan harga produk apabila kondisi tersebut terus berlanjut.
Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS dinilai dapat menambah tekanan terhadap biaya distribusi dan harga barang dari pemasok.
Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Tomin Widian, seperti dilansir Disway.i, mengungkapkan kondisi pasar saat ini dinilai lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, sejumlah pemasok telah menyampaikan kemungkinan melakukan penyesuaian harga produk. Kondisi itu terjadi di tengah daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih.
Tomin menjelaskan pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan pemasok untuk mempertimbangkan kenaikan harga.
Dia menilai sebagian pemasok mulai kesulitan mempertahankan harga lama karena tekanan biaya yang terus meningkat.
Alfamart Siapkan Strategi Hadapi Kondisi Pasar
Menghadapi situasi tersebut, Alfamart berupaya memperkuat strategi pemasaran dan pelayanan kepada pelanggan.
Tomin mengatakan perusahaan akan memanfaatkan data konsumen untuk memahami kebutuhan pelanggan secara lebih tepat.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berharap dapat menghadirkan penawaran yang lebih relevan.
Selain itu, Alfamart akan meningkatkan program promosi yang dirancang berdasarkan perilaku dan kebutuhan konsumen.
Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga loyalitas pelanggan sekaligus membantu mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi.
Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat
Berdasarkan data Google Finance, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kembali mengalami kenaikan sekitar 0,76 persen hingga menyentuh kisaran Rp18.001.
Penguatan dolar tersebut menjadi perhatian berbagai sektor usaha karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan harga sejumlah produk yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Bank Indonesia Soroti Faktor Geopolitik
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi kondisi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut membuat prospek perdamaian menjadi lebih sulit tercapai.
Situasi itu turut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global.
Selain faktor eksternal, Destry juga menyebut kebutuhan domestik terhadap valuta asing masih cukup besar.
Kondisi tersebut berkaitan dengan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.
Kombinasi faktor global dan domestik tersebut menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.



