RADARCIAMIS.COM – Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keliki di Kabupaten Gianyar, Bali, menunjukkan bagaimana energi terbarukan mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

Dilansir dari laman pertamina.com, program yang dikembangkan Pertamina tersebut memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mendukung pengelolaan sampah, pertanian ramah lingkungan, dan ketahanan pangan masyarakat desa.

DEB Keliki mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi untuk operasional pengolahan sampah dan sistem pengairan pertanian.

Jajaran Dewan Komisaris Pertamina bahkan meninjau langsung program tersebut dan mendengarkan pengalaman masyarakat penerima manfaat.

Ketua BUMDes Yowana Bakti Keliki, I Wayan Sumada, mengungkapkan tingginya volume sampah yang harus dikelola setiap hari di desanya.

“Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu – Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah,” ujarnya.

PLTS berkapasitas 10,5 kWp yang digunakan untuk mendukung pengolahan sampah mampu menghasilkan 14.256 kWh energi surya setiap tahun.

Pemanfaatan energi surya tersebut turut menghemat biaya listrik hingga Rp21 juta per tahun.

Selain itu, penggunaan PLTS juga membantu menekan emisi gas rumah kaca sebesar 13,7 ton CO2eq per tahun.

Menurut Sumada, program tersebut turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

“Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerjasama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam,” tambahnya.

Produktivitas Pertanian Meningkat Signifikan

Selain sektor pengelolaan sampah, energi surya juga dimanfaatkan untuk mendukung irigasi pertanian di tujuh subak yang berada di wilayah Keliki.

PLTS berkapasitas 17,5 kWp digunakan untuk menggerakkan pompa air tanah bertenaga surya selama musim kemarau.

Sistem tersebut menghasilkan 84.000 kWh energi surya per tahun dan mengurangi emisi GRK hingga 23,1 ton CO2eq per tahun.

Penggunaan energi bersih itu juga menghasilkan penghematan biaya listrik sekitar Rp35 juta per tahun.

Dampak lainnya terlihat pada peningkatan hasil panen padi organik yang dikembangkan masyarakat setempat.

Sebelum program berjalan, produktivitas padi hanya berkisar 5 hingga 5,5 ton per hektare.

Setelah mendapatkan pembinaan dan pendampingan, hasil panen meningkat menjadi 8,7 ton per hektare.

Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, mengapresiasi keberhasilan program yang mampu menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi.

“Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Kini DEB Keliki berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan dan energi bersih.

Program tersebut telah memberikan manfaat kepada sekitar 1.200 kepala keluarga serta melibatkan sembilan tenaga kerja dan 15 UMKM pemuda desa.

Masyarakat juga menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi seperti pupuk organik, ecoenzyme, dan kompos organik.

Keberhasilan tersebut menarik perhatian banyak kalangan dari dalam maupun luar negeri.

Tercatat sekitar 6.000 pengunjung telah datang untuk mempelajari pengelolaan sampah, pertanian berbasis energi bersih, dan menikmati potensi wisata desa yang berkembang bersama ekonomi masyarakat setempat.