Home Daerah Perajin Tahu Tempe di Ciamis Mulai Rasakan Dampak Kenaikan Harga Kedelai dan...

Perajin Tahu Tempe di Ciamis Mulai Rasakan Dampak Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik

Perajin tahu tempe di Ciamis mulai terdampak kenaikan harga kedelai impor dan plastik. -Pixabay-

RADARCIAMIS.COM – Perajin tahu tempe di Kabupaten Ciamis mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga bahan baku.

Kedelai impor dan plastik mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir ini.

Dikutip dari Radartasik.id, Miya (45), seorang perajin tempe di Dusun Cikaret Desa Sukamulya, mengungkapkan harga kedelai impor terus naik.

Harga kedelai yang sebelumnya dijual sekitar Rp 8.000 per kilogram kini mencapai Rp 10.600.

Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat. Beban usaha pun semakin berat dirasakan.

Selain kedelai, harga plastik pembungkus juga naik tajam. Harga yang sebelumnya sekitar Rp 290.000 per bal kini menembus Rp 500.000.

Dilema Kedelai Impor dan Lokal

Meski biaya produksi meningkat, harga jual tempe tidak dinaikkan. Tempe masih dijual sekitar Rp 2.000 per potong.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, ukuran tempe diperkecil. Cara ini dipilih agar pembeli tetap bertahan.

Produksi pun terpaksa dikurangi. Hal itu dilakukan karena daya beli masyarakat menurun.

Tersedia kedelai lokal dengan harga lebih murah, sekitar Rp 7.000 per kilogram. Namun, sebagian perajin tetap memilih kedelai impor.

Kualitas kedelai impor dinilai lebih baik. Tempe yang dihasilkan lebih tahan lama dan memiliki tekstur lebih bagus.

Jika menggunakan kedelai lokal, kualitas produk dianggap menurun. Dampaknya bisa memengaruhi penjualan di pasar.

Tidak Masuk Program MBG

Miya juga tidak memasok tempe ke program makan bergizi gratis (MBG). Harga yang ditawarkan dinilai terlalu rendah.

Harga pembelian sekitar Rp 1.000 per potong dianggap tidak sebanding dengan biaya produksi. Kondisi ini membuat perajin memilih tetap menjual ke pasar.

Harapan pun disampaikan kepada pemerintah. Harga kedelai impor dan plastik diharapkan segera turun agar usaha bisa bertahan.

Perajin Tahu Hadapi Tantangan Serupa

Hal serupa dirasakan Nana Carmana (53), perajin tahu di Dusun Cibodas. Produksi tahu saat ini menghadapi tekanan dari mahalnya bahan baku.

Kenaikan harga kedelai dan turunnya daya beli masyarakat menjadi tantangan utama. Kondisi ini memaksa perajin menyesuaikan ukuran tahu.

Upaya tersebut dilakukan agar usaha tetap berjalan. Produksi terus dipertahankan meski dalam kondisi sulit.

Para perajin berharap harga kedelai impor segera stabil. Penurunan harga dinilai penting agar usaha kembali normal.

Daya beli masyarakat juga diharapkan membaik. Dengan begitu, penjualan tahu dan tempe bisa kembali meningkat.