Home Daerah Ini Penyebab Krisis Sampah di Kota Tasikmalaya, Armada Tua Menjadi Kendala Utama...

Ini Penyebab Krisis Sampah di Kota Tasikmalaya, Armada Tua Menjadi Kendala Utama Pengangkutan

Ini Penyebab Krisis Sampah di Kota Tasikmalaya, Armada Tua Menjadi Kendala Utama Pengangkutan. - Rezza Rizaldi/Radar Tasikmalaya Group-

RADARCIAMIS.COM— Persoalan sampah di Tasikmalaya kembali menjadi sorotan publik. Termasuk penyebab krisis sampah di Kota Tasikmalaya yang belum sepenuhnya teratasi.

Tumpukan sampah yang masih terlihat di sejumlah ruas jalan menunjukkan persoalan kebersihan kota belum sepenuhnya teratasi, meski upaya penanganan terus dilakukan oleh pemerintah daerah.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya mengakui kapasitas armada pengangkut sampah yang dimiliki saat ini belum mampu bekerja optimal untuk mengimbangi tingginya volume sampah harian yang terus meningkat.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Fery Arif Maulana, menjelaskan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini mencapai sekitar 300 hingga 330 ton per hari.

BACA JUGA: Persib Waspadai PSM Makassar, H Umuh Muchtar Targetkan Dua Laga Sisa Jadi Penentu Gelar Juara

“Kurang lebih sekitar 330 ton per hari yang masuk ke TPA,” ujarnya kepada Radar Tasikmalaya Group, Rabu (13/5/2026).

Meski kapasitas TPA masih dinilai aman, persoalan terbesar justru terjadi pada proses pengangkutan di lapangan.

Saat ini, DLH hanya mengandalkan sekitar 42 armada pengangkut sampah untuk melayani 10 kecamatan di Kota Tasikmalaya.

Dari jumlah tersebut, hampir separuh kendaraan disebut sudah berusia tua dan membutuhkan peremajaan agar pelayanan bisa berjalan lebih maksimal.

Kondisi armada yang menua membuat proses pengangkutan sampah sering terkendala, terutama ketika terjadi lonjakan volume sampah saat musim libur panjang atau ketika layanan terganggu.

DLH pun mengakui jumlah armada yang tersedia masih jauh dari kebutuhan ideal untuk melayani seluruh wilayah kota secara optimal.

Di tengah keterbatasan tersebut, DLH memprioritaskan penanganan di sejumlah titik yang dianggap paling krusial, seperti kawasan Pasar Lama, Dadaha, Pasar Cikurubuk, hingga area Hotel Borobudur dan Jalan SL Tobing.

Sementara itu, pelayanan rutin di kawasan permukiman disebut masih berjalan normal dan tetap dapat tertangani.

Sebagai langkah antisipasi, DLH mulai menyiapkan pola baru pengangkutan sampah berbasis wilayah kecamatan.

Skema tersebut dirancang agar setiap armada fokus melayani satu kecamatan sehingga ritase pengangkutan menjadi lebih efektif dan kendaraan tidak lagi berpindah-pindah jalur.

DLH optimistis kondisi pengangkutan sampah akan kembali normal dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, layanan sempat mengalami gangguan akibat aksi mogok kerja petugas pengangkut sampah yang berlangsung selama dua hingga tiga hari.

Di sisi lain, kritik keras datang dari pemerhati sosial Kota Tasikmalaya, Ade Ruhimat atau yang akrab disapa Abah Aru.

Ia menyindir Tasikmalaya berpotensi mendapat cap sebagai kota terkotor di kawasan ASEAN apabila persoalan sampah terus berulang tanpa solusi modern dan langkah konkret dari pemerintah.

Sindiran tersebut menjadi tamparan keras bagi wajah kota.

Ketika banyak daerah berlomba menghadirkan lingkungan bersih dan nyaman, Tasikmalaya justru masih bergulat dengan persoalan klasik berupa bau menyengat dan tumpukan sampah yang terus datang silih berganti setiap waktu. (rezza rizaldi)