Home Daerah Disnakkan Ciamis Intensifkan Vaksinasi, Pastikan Hewan Kurban Bebas PMK dan LSD

Disnakkan Ciamis Intensifkan Vaksinasi, Pastikan Hewan Kurban Bebas PMK dan LSD

Disnakkan Ciamis menggencarkan pengawasan dan vaksinasi hewan kurban. -Ilustrasi/Ujang Nandar-

RADARCIAMIS.COM – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis mengintensifkan vaksinasi hewan menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.

Langkah itu sebagai kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).

Kedua penyakit tersebut dapat menyerang sapi maupun kerbau serta berpotensi menimbulkan kerugian bagi peternak maupun pedagang hewan kurban.

Namun hingga kini kondisi hewan ternak di Kabupaten Ciamis dipastikan masih aman. Kasus PMK dan LSD tidak ditemukan menyerang hewan kurban di wilayah Ciamis.

Dikutip dari Radartasik.id, Ketua Tim Kerja Substansi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkan Kabupaten Ciamis Budiono menjelaskan pasokan sapi dari luar daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah masih belum masuk ke lapak penjualan hewan kurban di Ciamis.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit pada ternak, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Risiko Ternak

Budiono mengatakan perubahan cuaca berupa panas ekstrem yang disertai hujan mendadak membuat sapi rentan mengalami gangguan kesehatan.

Kondisi lingkungan yang berubah cepat juga dinilai dapat memicu stres pada hewan ternak.

Karena itu, banyak pedagang memilih menunda pengiriman sapi hingga mendekati Idul Adha guna meminimalkan risiko kesehatan hewan selama perjalanan.

Selain faktor cuaca, pola transaksi hewan kurban di Kabupaten Ciamis mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini konsumen lebih banyak memesan langsung kepada bandar dibanding datang mencari hewan kurban ke lokasi penjualan.

Untuk ketersediaan ternak, Disnakkan memperkirakan jumlah hewan kurban tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, yakni sekitar 10 ribu ekor sapi dan domba.

Pengawasan PMK dan LSD Diperketat

Budiono memastikan hingga kini belum ditemukan kasus PMK di Kabupaten Ciamis, khususnya pada peternakan pembesaran sapi.

Meski demikian, pengawasan tetap diperketat, terutama terhadap ternak yang berasal dari daerah dengan riwayat kasus PMK.

Selain PMK, kewaspadaan diarahkan pada penyakit LSD yang ditandai munculnya benjolan pada kulit ternak.

Penyakit tersebut sempat ditemukan pada tahun lalu. Namun saat ini kasusnya tidak terdeteksi lagi di Ciamis.

Dia menambahkan sapi yang terkena LSD biasanya mengalami penurunan nilai jual. Karena itu, Disnakkan terus melakukan vaksinasi dan pengobatan cepat jika ditemukan gejala pada ternak.

Untuk mendukung penanganan tersebut, Disnakkan Kabupaten Ciamis telah menyiapkan 13 tim teknis yang tersebar di 27 kecamatan guna membantu pemeriksaan dan pengobatan hewan ternak.

Pedagang Pastikan Sapi Sehat

Seorang penjaga lapak penjualan sapi bali di Jalan Sindangkasih, Ciamis, Deden mengatakan pihaknya menyediakan 53 ekor sapi bali untuk kebutuhan Idul Adha tahun ini.

Dia memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat. Semua telah melewati pemeriksaan dokumen dan kesehatan secara ketat sebelum masuk ke lokasi penjualan.

Jika ada sapi mengalami gangguan kesehatan, maka akan langsung menjalani karantina agar tidak menular ke ternak lainnya.

Dia juga menjelaskan sapi yang didatangkan dari Bali umumnya mengalami penurunan bobot sekitar 10 persen akibat perjalanan panjang.

Karena itu, sapi Bali biasanya dilakukan masa pemulihan terlebih dahulu sebelum hewan dijual kepada konsumen.

Puluhan sapi yang tersedia saat ini punya bobot antara 260 hingga 390 kilogram. Harganya mulai Rp 19 juta sampai Rp 28 juta per ekor atau sekitar Rp 70 ribu per kilogram bobot hidup.

Deden menambahkan sapi Bali dikenal memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap penyakit sehingga kondisi ternak tetap sehat saat dipasarkan.